Subdirektorat Alumni UNSRI

Follow Us

Berita Umum

  • Home
  • UNSRI dan Google Bahas Tentang Pemanfaatan AI untuk Perkuat Keterserapan Alumni
icon Berita Umum
icon 14 Aug 2026

UNSRI dan Google Bahas Tentang Pemanfaatan AI untuk Perkuat Keterserapan Alumni

PALEMBANG, Universitas Sriwijaya — Universitas Sriwijaya (UNSRI) membahas peluang pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk memperkuat kompetensi lulusan dan meningkatkan keterserapan alumni dengan Google Indonesia. Pembahasan berlangsung di Kantor Pusat Administrasi (KPA) UNSRI, Kamis (13/8/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri Subdirektorat Alumni UNSRI Prof.Ir. Deris Stiawan, Ph.D, IPU ASEAN ENG perwakilan dari Principle Google untuk area Sumbagsel sebagai Google Education Specialist,  Aziz, serta Kasie Tracer Study dan Pendataan Alumni UNSRI Dr. Meilinda, M.Pd

Pembahasan berangkat dari perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin menempatkan kemampuan menggunakan teknologi AI sebagai salah satu kompetensi penting. Dalam paparan Google, Artificial Intelligence dan Big Data disebut sebagai kelompok keterampilan yang diproyeksikan menjadi salah satu yang tumbuh paling cepat menuju 2030. Penguasaan AI juga tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi mencakup kemampuan menyusun prompt, menyesuaikan pemanfaatan AI dengan kebutuhan pekerjaan, memahami aspek etika, serta mengenali keterbatasan teknologi tersebut.

Perubahan tersebut menjadi peluang bagi UNSRI untuk menghubungkan pengembangan kompetensi mahasiswa dan alumni dengan kebutuhan dunia kerja. Pemanfaatan AI dapat diarahkan tidak hanya untuk mendukung pembelajaran, tetapi juga untuk membekali mahasiswa dan alumni dengan keterampilan yang relevan ketika memasuki dunia profesional.

Salah satu rencana yang diperkenalkan dalam paparan Google adalah Google AI Learning Lab, yang diarahkan sebagai laboratorium dan pusat inovasi untuk mendukung penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi berbasis data. Dalam rencana tersebut, pengembangan teknologi tepat guna, peningkatan literasi digital, serta kemitraan dengan industri dan UMKM menjadi bagian dari manfaat yang ditawarkan. Kolaborasi dengan industri dan UMKM juga diarahkan untuk mengoptimalkan penyerapan alumni.

Bagi UNSRI, penawaran dari Google Indonesia tersebut membuka ruang untuk mempertemukan mahasiswa dan alumni dengan kebutuhan nyata dunia kerja. Mahasiswa dan alumni dapat memperoleh pengalaman melalui proyek yang berkaitan dengan persoalan industri, sedangkan alumni dapat dilibatkan dalam membangun jejaring profesional dan membuka akses terhadap dunia kerja. Dengan demikian, hubungan kampus dengan alumni tidak berhenti pada pendataan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Jejaring alumni dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem yang membantu mahasiswa memahami perkembangan kebutuhan industri.

Bagi UNSRI, data tersebut dapat menjadi dasar untuk membaca perubahan kebutuhan pasar kerja dan menentukan kompetensi yang perlu diperkuat. Informasi mengenai keterampilan yang dibutuhkan industri dapat digunakan untuk mendukung pengembangan pembelajaran, pelatihan, sertifikasi, maupun program persiapan karier mahasiswa.

Pemanfaatan teknologi AI juga membuka peluang untuk mengolah data secara lebih cepat sehingga informasi mengenai perkembangan alumni dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan yang lebih strategis.

Google dalam paparannya juga memperkenalkan program pengembangan kompetensi melalui AI Fellowship dan sertifikasi bagi dosen serta mahasiswa. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan menggunakan AI dalam berbagai kebutuhan akademik dan profesional.

Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, penelitian, penyusunan tugas akhir, pengembangan gagasan, hingga persiapan karier.

Program sertifikasi yang dipaparkan Google juga memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk memperoleh kredensial Gemini. Dalam bahan presentasi disebutkan bahwa program tersebut diperuntukkan bagi institusi pendidikan tinggi terpilih dan dapat mencakup dosen serta mahasiswa di institusi yang mengikuti program.

Namun, penguatan kompetensi AI tidak semata-mata diarahkan pada kepemilikan sertifikat. Yang lebih penting adalah bagaimana keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam konteks pekerjaan dan menjawab kebutuhan industri. Pertemuan UNSRI dan Google membuka peluang untuk mengembangkan hubungan yang lebih erat antara mahasiswa, alumni, dan dunia industri.

Mahasiswa dan alumni yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pemanfaatan AI dapat dipetakan berdasarkan bidang keahlian dan minat karier. Pada saat yang sama, jejaring alumni dapat menjadi penghubung dengan perusahaan dan sektor industri yang membutuhkan talenta dengan kompetensi tersebut.

Pola ini dapat dikembangkan menjadi talent pipeline, yakni alur yang menghubungkan pengembangan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan tenaga kerja. Mahasiswa memperoleh pengalaman dan keterampilan yang relevan, alumni memperluas peran sebagai jejaring profesional, sementara industri mendapatkan akses terhadap calon tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.

Bagi UNSRI, pemanfaatan AI dengan pendekatan tersebut bukan sekadar bagian dari transformasi teknologi. AI dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat employability lulusan, memperluas kemitraan dengan industri, serta mengoptimalkan peran alumni dalam membuka akses mahasiswa terhadap dunia kerja.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi AI di perguruan tinggi tidak hanya diukur dari seberapa banyak teknologi digunakan, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut menghasilkan kompetensi yang relevan, pengalaman yang dibutuhkan industri, dan peluang kerja yang lebih besar bagi lulusan.